I don't know why I never think to commit suicide. Maybe someday, but I hope never.
Selasa, 21 Mei 2013
Senin, 20 Mei 2013
Jatuh Cinta dengan Prameswari
Saat saya duduk di bangku SMP, Saya pernah menyaksikan sebuah FTV yang membuat saya jatuh cinta dengan nama Prameswari. Prameswari merupakan judul FTV yang juga merupakan tokoh rekaan yang ada dalam cerita. Nicky Astria merupakan aktris yang berperan sebagai Prameswari, seorang yang sedang melakukan penelitian untuk studinya, yang kemudian ditawari untuk menjadi seorang guru pengganti di sekolah dasar. Saat menjadi guru, ia dikagetkan oleh praktek prostitusi yang menjerat murid-muridnya. Ia pun berusaha untuk dapat menyalamatkan murid-muridnya, namun bukanlah hal yang mudah untuk dapat menyelematkan mereka karena praktek prostitusi tersebut telah mendapat dukungan dari masyarakat setempat. Saya sendiri lupa bagaimana akhirnya, namun upaya yang dilakukan Prameswari untuk dapat menyelamatkan murid-muridnya sungguh membuah saya jatuh cinta dengan nama itu. Nama yang selalu membuat saya semangat ketika mendengar atau mengingatnya. Saya rasa Prameswari akan menjadi nama untuk anak perempuan saya jika Allah menghendakinya.
Kamis, 16 Mei 2013
Kutipan
Gue suka loh sama quote ini. Selalu ada kesengsaraan dalam perang, naif memang menghindarkan kesengsaraan dalam perang. Juga sama naifnya menurut gue, jika kita meyakini perang dapat terhindarkan. Dengan alasan nggak dapat terhindarkan itulah kita harus dapat menilai seberapa besar manfaat yang pantas diperoleh dengan kesengsaraan sebagai bayarannya. Ya. Gue juga sadar ada yang meyakini bahwa ini adalah perilah yang debatable.
Terjemahan Surat Al Fatihah
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang [1] Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam [2] Maha Pemurah lagi Maha Penyayang [3], Yang menguasai hari pembalasan [4] Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan [5] Tunjukilah kami jalan yang lurus [6], (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (orang-orang yang mengetahui kebenaran dan meninggalkannya), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena ketidaktahuan dan kejahilan)[7].
Penelitian sebagai alat manipulasi kebenaran
Gue nggak pernah percaya kalau penelitian itu bersifat objektif. Menurut gue, penelitian itu manipulatif. Penelian adalah ego para akademisi yang merasa bahwa mereka adalah penguasa kebenaran. Ya. Bagaimana nggak? Dalam lingkup ilmu pengetahuan kebenaran memiliki relativitas. Relativitas tersebut menjadikan setiap orang berhak untuk melakukan klaim atas kebenaran yang mereka yakini. Dengan ketersediaan keyakinan atas kebenaran yang bukan hanya satu, sehingga setiap orang dapat memilih kebenaran yang ia yakini atau bahkan menciptakan kebenaran baru untuk ia yakini sendiri juga orang lain. Tulisan yang gue buat saat ini, gue khususkan dalam lingkup ilmu pengetahuan sosial karena keberadaan gue disana. Apakah dalam lingkup ilmu alam juga sama, gue nggak bisa jawab karena tidak ikut bagian di dalamnya.
Gue pernah membuat makalah tentang media. Gue lupa tepatnya, apakah gue mencoba melihat pengaruh tayangan kekerasan terhadap anak atau pengaruh tayangan pornografi terhadap anak? Dalam satu buku yang gue baca untuk mencari referensi pendukung, terdapat teori yang menjelaskan pengaruh posistif terhadap perilaku anak yang dipengaruhi oleh tayangan kekerasan/pornografi. Sebagai mahasiswa jurusan kriminologi, gue memang tidak banyak belajar mengenai media, untuk itu gue mencoba berdiskusi dengan seorang teman dari jurusan ilmu komunikasi yang kompetensi mereka untuk menganalisa permasalahan media lebih baik dibandingkan gue. Dengan diskusi itu pun gue mendapatkan informasi bahwa penelitian tentang pengaruh positif terhadap perilaku anak yang dipengaruhi oleh tayangan kekerasan/pornografi dilakukan oleh mereka yang mendukung produksi tayangan kekerasan dan pornografi.
Hal yang kurang lebih sama pernah gue lakukan saat gue berada di BK MWA UI sebagai kepala kajian kebijakan. Gue mengatakan kepada staf gue tentang bahwa keberadaan kami di dalam lingkup akademis mengaruskan kami untuk dapat memiliki pondasi berupa argmentasi atau teori yang telah mapan. Namun dimana letak pondasi tersebut ialah otoritas kami untuk menentukannya. Kami bisa berada pada posisi X dan yang harus kami lakukan ialah mendukung agar bangunan yang berada dalam posisi X dapat berdiri dengan kokoh, hal yang sama jika kami memilih posisi Y, yang kami lakukan hanyalah membangun pondasi yang mendukung agar bangunan yang ada di posisi Y juga dapat berdiri dengan kokoh. Jadi, kita harus tahu, kepentingan kita apa dan meyakinkan yang lainnya bahwa kepentingan kita pantas untuk diperjuangkan, juga dipenuhi.
Gue sekali lagi melakukan hal yang sama dalam penyusunan skripsi gue. Sebelum skripsi gue selesai, bahkan sejak awal ide penulisan tema skripsi gue pikirkan, gue sudah memiliki hasil akhir yang gue mau. Dan yang sekarang gue lakukan adalah mencari alasan-alasan agar gue terlihat bernar dengan apa yang gue tulis.
Jika ada yang nggak percaya dengan opini gue tentang penelitian sebagai alat manipulasi kebenaran silahkan saja, tapi jangan lupa untuk dibuat alasannya agar dapat dipercaya bahwa benar penelitian bukanlah alat manipulasi kebenaran. Selamat memanipulai!
Ngomong-ngomong, Gue percaya Tuhan dan lebih spesifik lagi, gue meyakini Allah sebagai Tuhan gue. Gue meyakini Kebenaran yang benar-benar kebenaran ialah apa yang ada dalam agama Islam yang menuhankan Allah. Selama gue meyakini kebenaran yang benar-benar kebenaran ada dalam agama islam, jelas yang gue lakukan ialah menguatkan keyakinan gue atas kebenaran tersebut, tidak lupa juga mempengaruhi orang lain atas apa yang gue yakini. Urusan mereka percaya, itu urusan belakangan. Toh, mereka diberikan kehendak untuk meyakini atau tidak meyakini apa yang gue yakini.
Semoga kita diberi kesempatan untuk berada pada jalan kebenaran sampai akhir hayat nanti! :D
Rabu, 15 Mei 2013
Jadi gue dikasih waktu dua minggu untuk menyelesaikan skripsi gue dalam dua minggu terhitung rabu minggu lalu oleh pembimbing gue. Gue sejujurnya agak gagal paham sama diri gue sendiri. Sampai rabu malam ini, seminggu setelah titah sang pembimbing, belum juga gue berdarah-darah ngerjain. Udah sih dipikirin di dalam otak gue, tapi kok mager banget buat ngetiknya. Hiks banget. Dan tinggal seminggu lagi waktu gue. Huphuphup!!
Setelah diketikannya tulisan ini, gue mau beneran ngerjain skripsi. Dadadah!! Byebyebye!! :D
Langganan:
Entri (Atom)

